Let's Share :)

Pages

  • sebaik baik ilmu, adalah ilmu yang bermanfaat:)
Flag Counter

Total Pageviews

Followers

Labels

  • Artikel
  • dibaca silahkan enggak juga silahkan
  • Kumpulan Makalah
  • Kumpulan soal dan teks
  • Literature
  • My Blog Corner

Blog Archive

Monday, July 25, 2016
In: Artikel

SETITIK CAHAYA DARI TIMUR


Happy Monday, today i would like to share my bestfriend story. little bit, ini cerita dateng dari pengalaman pribadi dia yang agak di mix dikit. trust me, gak ada perubahan apapun di cerpen dia. so, enjoy the story deh ya ;) #happysharing 



keywords : story , cerpen, cerita pendek, romantic story, cerita romantis, 
______________________________________________________________________________
            “Saya ingin melanjtukan S2, Ma!”
***
            Suara teriakan itu kembali terdengar dari salah satu ruangan di rumah kontrakan itu. Ya, sama seperti hari-hari sebelumnya, Aldi selalu bertengkar dengan bu Helmi, Mamanya. Walaupun pertengkaran dan perdebatan itu terjadi lewat telepon, tapi cukuplah bagiku untuk mengetahui apa yang mereka perdebatkan. Dan yang terjadi berikutnya sangatlah mudah ditebak. Suara tangisan dari wanita diseberang selalu menjadi penutup perdebatan panjang antara mereka. Terkadang, Aldi melunakkan suaranya saat mendengar tangisan Mamanya. Ia seakan tak tega menyakiti hati wanita yang telah melahirkannya itu. Namun di sisi lain, Ia sangat kecewa dengan keputusan Mamanya yang selalu mengaitkan impiannya dengan masalah keluarga mereka. Bukan tidak ingin Aldi pulang dan berkumpul dengan keluarga yang telah 4 tahun ditinggalkannya. Tapi ada secercah kekhawatiran dalam diri Aldi. Ia khawatir ketika Ia pulang nanti, Ia tidak dapat memenuhi impian orangtuanya untuk bekerja seperti apa yang mereka harapkan. Karena memang saat ini sulit untuk menjadi seorang dosen dengan hanya berbekal ijazah S1 yang dimilikinya. Teringat suatu ketika Aldi mengungkapkan keluhannya padaku, “Lulusan S1 sekarang bisa apa? Cari pekerjaan yang sesuai keinginan bakalan susah. Kamu tahu kan, aku ingin jadi dosen Ca?”. Aldi memang sangat bercita-cita menjadi dosen. Baginya, cukuplah ia mengikuti keinginan orangtuanya untuk kuliah di jurusan pendidikan yang sebenarnya tidak diinginkannya. Namun sekarang, ia ingin mewujudkan cita-citanya untuk melanjutkan S2 dan menjadi dosen.
***
            Tidak lama lagi Bu Helmi akan tiba di Jogjakarta. Beliau ingin menghadiri wisuda anak laki-laki kebanggaannya ini. Hati Aldi semakin tidak karuan. Di satu sisi Ia sangat rindu dan ingin bertemu Mamanya. Namun di sisi lain, Ia takut jika Mamanya nanti kembali memaksanya untuk pulang dan bekerja disana. “Aku harus gimana Ca? Kalau nanti tiba-tiba aku diculik Mama untuk pulang ke Papua gimana?” candanya padaku pada suatu hari. “Lha kok nanya aku? Kamu pasti tahu mana yang terbaik buat kamu Di,” sahutku. “Ah, aku nggak mau pulang Ca. Aku masih mau di sini. Kamu nggak kangen nih sama aku kalau aku pulang?” tanyanya. “Di, aku lebih baik berpisah sementara sama kamu tapi kamu bisa sukses di sana daripada harus menahan kamu di sini tapi kamu malah stuck dan kebingungan” sahutku. Ya, aku dan Aldi memang telah menjalin persahabatan yang lama. Dan aku tahu semua cerita tentang kegelisahan dan kebingungannya selama ini. “Sebentar lagi Mamaku akan tiba di sini dan aku masih belum menentukan keputusan yang akan aku ambil,” keluh Aldi. “Wah, sebentar lagi anak Mami ini bakal pulang nih hahaha,” candaku. “Ca, stop ngatain aku anak Mami. Aku beneran lagi kebingungan ini,” sahutnya. “Iya Di maaf hehehe. Kamu udah dewasa loh Di. Sebagai sahabat aku hanya bisa ngasih dukungan buat kamu apapun keputusanmu,” sahutku. “Tapi Ca, aku masih nggak setuju sama pilihan orangtuaku. Aku benci setiap kali mereka memaksaku untuk memenuhi keinginan mereka yang terkadang nggak masuk akal itu,” bantah Aldi. “Sekarang aku tanya deh Di, udah berapa tahun kamu nggak ketemu keluargamu? 4 tahun kan? I suggest you to go back to your home because we don’t know what will happened tomorrow,” sahutku. Aldi terdiam mendengar kata-kataku. “Oke aku tahu yang harus aku lakukan Ca,” sahut Aldi mengakhiri percakapan kami.
***
            Hari ini adalah hari yang sangat menentukan bagi Aldi. Semenjak kedatangan Mama dan Adiknya beberapa hari yang lalu, ia berubah menjadi seorang yang lebih optimis. Mungkin karena telah bertemu dan berbicara langsung dengan Mamanya, ia sudah bisa menentukan langkah yang harus ia ambil. Wisuda tinggal beberapa hari lagi. Dan Aldi semakin sibuk mempersiapkan segala sesuatunya. Jadilah aku yang menemani Mama dan adiknya kemana-mana. Di suatu sore saat aku dan Bu Helmi sedang ngobrol, beliau bertanya padaku dengan logat khasnya, “Nak, apakah Aldi pernah bercerita padamu tentang masalahnya?”, kata Bu Helmi. “Iya Bu, pernah. Kami sudah bersahabat lama Bu jadi Aldi sudah bercerita semuanya padaku,” sahutku. “Ibu hanya ingin yang terbaik untuk dia dan masa depannya Nak.. Ibu tidak ingin dia menderita seperti Ibu dulu.. Ibu ingin dia mendapatkan kehidupan yang layak di masa yang akan datang dengan keluarganya… Jadi Ibu putuskan untuk membawa dia pulang kembali ke kampung halamannya di Papua…,” kata Bu Helmi. Matanya berkaca-kaca saat bercerita kepadaku. “Dulu saat ia kecil, Ibu tidak bisa memberikan mainan seperti anak-anak yang lain. Dia juga tidak bisa bermain bersama teman-temannya setiap hari karena ia harus membantu Ibu menjaga adik-adiknya dirumah selagi Ibu bekerja di luar..,” lanjutnya.  Aku hanya terdiam menyimak cerita Bu Helmi. “Ibu tidak ingin masa kecilnya yang susah itu kembali terulang sekarang Nak.. Ibu masih ingat bagaimana dulu saat SD ia berjuang membantu Ibu berjualan gorengan di sekolah dan ditegur oleh guru-gurunya karena berjualan di sekolah.. Tapi dia tidak malu… Dia tetap dengan sabar membantu Ibu berjualan..,” kata Bu Helmi sambil menyeka air matanya. Diam-diam mataku mulai berkaca-kaca saat melihat Bu Helmi meneteskan air matanya. Seakan turut merasakan apa yang dirasakan Bu Helmi saat itu. Dalam hati aku merasa bersyukur telah dikaruniai keluarga yang begitu menyayangiku sehingga hidupku tidak seperti Aldi. Aku menyadari mungkin masih banyak orang-orang diluar sana yang bernasib sama atau bahkan lebih susah dari Aldi dulu.
***
            Sinar mentari sore seakan menjadi saksi kesedihan dan keharuan yang menyelimuti perasaan kami. Tak terasa telah banyak yang diceritakan Bu helmi kepadaku. Tentang kehidupan, tentang perjuangan, tentang cinta dan kasih sayang. Bagiku, Bu Helmi sudah kuanggap seperti Ibuku sendiri. Karena dari beliaulah aku mulai memahami arti sayangnya seorang Ibu yang kadang-kadang sering aku salah artikan maksudnya.
***
            Hari bahagia itupun tiba. Aldi lulus dengan IPK tertinggi di fakultasnya. Rona dan bahagia terpancar dari wajah Bu Helmi. Bagaimana tidak, anak laki-laki yang paling disayanginya telah membanggakannya hari ini. “Terimakasih Ma, berkat Mama akhirnya Aldi bisa lulus kuliah dan membanggakan Mama,” kata Aldi ketika kami makan siang bersama merayakan kelulusannya. Bu Helmi hanya tersenyum mendengar perkataan anaknya. “Ma, Aldi ingin bilang sesuatu. Aldi sudah memutuskan apa yang akan Aldi lakukan. Aldi akan pulang kembali ke Papua bersama Mama. Aldi akan mencari kerja disana dan merawat Bapak dan Mama di rumah,” lanjutnya. “Alhamdulillah… Iya Nak.. Mama senang sekali mendengarnya.. Maafkan Mama tidak mengizinkanmu untuk menggapai mimpimu disini.. Tapi yakinlah Nak.. Suatu hari nanti Mama akan kembali melihatmu sukses di sana… amin…,” sahut Bu Helmi sambil meneteskan air mata.
***
            Dan siang itu menjadi akhir dari kegelisahan Aldi selama ini. Dengan berbesar hati ia menyetujui keinginan orangtuanya untuk kembali ke Papua. Harapan untuk tetap dapat melanjutkan S2 masih tetap terpancar di matanya. Namun ia berhasil mengalahkan egonya itu. Ia sadar keluarga lebih penting dari apapun. Dan ia percaya bahwa suatu saat Ia akan mewujudkan mimpinya tersebut. Mungkin ini akan menjadi hari perpisahan bagiku dan Aldi. Persahabatan yang telah kami jalin selama 4 tahun akan terpisah sementara. Mulai hari ini kami akan memulai hidup yang sebenarnya. Hari dimana kami akan benar-benar menemukan apa artinya perjuangan dan pengorbanan. Kami berjanji akan saling member kabar dan suatu saat nanti akan bertemu dengan kesuksesan di tangan masing-masing.
***
            “Terimakasih Ca, kamu bener-bener udah jadi malaikat aku selama ini. Udah banyak bantuin aku, udah banyak aku susahin. Maaf ya kalo selama ini aku banyak salah dan selalu nyusahin kamu,” kata Aldi di stasiun pagi itu. Ya, pagi ini Aldi akan pulang ke Papua. Aku bersama beberapa orang teman ikut mengantarkannya ke stasiun. “Iya Di sama-sama. Janji ya nggak bakal sombong. Harus saling kabar-kabaran kalo udah disana,” sahutku. Kembali, pagi menjadi saksi perpisahan kami. Terimakasih semesta. Terimakasih telah mengenalkanku pada Aldi Renaldy. Seorang anak berkulit hitam dari Timur yang semangatnya selalu membara. Setitik cahaya yang selalu bersinar terang dan tak pernah meredup. Semoga perpisahan ini bukan menjadi akhir dari pertemuan kami.
***
            “Tunggulah, suatu hari nanti aku akan menjemputmu Ca,” bisik Aldi sambil tersenyum di telingaku. Aku hanya terdiam dan membisu. Ya, Aldi memang penuh misteri.
 




Yogyakarta, 11 Maret 2016
Posted by Alfina at 11:56:00 PM
Email This BlogThis! Share to X Share to Facebook

0 comments:

Post a Comment

Newer Post Older Post
Subscribe to: Post Comments (Atom)
Copyright © 2012 Let's Share :) |